laporan praktikum biokimia dasar FPT UGM acara I karbohidrat

LAPORAN PRAKTIKUM BIOKIMIA DASAR
ACARA I
KARBOHIDRAT

Disusun oleh :
Kelompok XXXIV
Agung Karuniawan PT/5984
Tzarina Fakhrun N. PT/5987
Slamet Widodo PT/5993
Sinu Saputri PT/6031
Asisten : Isti Rahmawatie

LABORATORIUM BIOKIMIA NUTRISI
BAGIAN NUTRISI DAN MAKANAN TERNAK
FAKULTAS PETERNAKAN
UNIVERSITAS GADJAH MADA
YOGYAKARTA
2012
ACARA I
KARBOHIDRAT

Tujuan Praktikum
Praktikum ini bertujuan untuk mengetahui adanya gugus reduksi pada karbohidrat, mengetahui adanya gugs reduksi pada karbohidrat, mengetahui pengaruh asam pada karbohidrat (identifikasi karbohidrat), mengetahui adanya gugus keton (fruktosa) pada karbohidrat sehingga dapat digunakan untuk membedakan glukosa dan fruktosa, mngidentifikasi karbohidrat berdasar bentuk fisik, mengetahui hasil hidrolisis dengan melihat adanya gugus reduksi pada karbohidrat, mengetahui adanya gugus keton pada hasil hidrolisis sakarosa.

Tinjauan Pustaka
Karbohidrat merupakan senyawa karbon yang mengandung hidrogen dan oksigen yang secara empiris memiliki rumus Cx(H2O)y. Karbohidrat adalah polihidroksi dari aldehida atau keton (Beran, 2000). Kelompok karbohidrat tersusun atas hidroksi aldehid, alkohol, asam berupa turun-turunannya dan beberapa komponen yang dapat dihidrolisis menjadi seperti gugusnya (Donald et al., 2002).
Beberapa senyawa dibagi menjadi 3 gologan yaitu monosakarida, oligosakarida dan polisakarida :
1. Monosakarida, adalah bentuk paling sederhana dari karbohidrat, senyawa ini tidak mengalami hidrolisa dikenal sebagai “gula sederhana” karena memiliki rasa manis. Contohnya gula dan glukosa.
2. Oligosakarida, senyawa ini terdiri dari dua atau lebih monosakarida dan dapat mengalami hidrolisa menjadi bentuk monosakarida. Bila senyawa ini tersusun atas dua monosakarida disebut disakarida.
3. Polisakarida, senyawa merupakan gabungan dari banyak molekul monosakarida dengan ikatan glukosakarida. Oligosakaraida merupakan bentuk sederhana dari polisakarida. Namun tidak ada batasan yang jelas antara keduanya. Senyawa yang termasuk dalam golongan ini antaralain pati, dektrin dan selulosa (Gilvery, 1996).
Reaksi monosakarida dapat dilihat dari reaksi kimianya. Radikal formil, radikal karbonil, radikal hidroksil yang terdapat di dalam struktur kimia monosakarida memegang pernana penting dalam menentukan sifat-sifat monosakarida. Dengan hidrogen pada penekanan dan memepergunakan katalisator atau dengan natrium amalgam, baik aldosa atau ketosa dapat mengalami reduksi. Seperti halnya alkanal, aldosa dapat mengalami oksidasi. Hasil oksidasi aldosa tergantung pada kuat atau lemahnya oksidator yang digunakan. Dengan oksidator lemah aldosa akan mengalami oksidasi menjadi asam berbasa satu atau yang disebut basa aldonat. Oksidasi oladosa dengan oksidator kuat akan menghasilkan asam berbasa dua, yaitu asam aldarat atau asam sakarat. Heksosa dan beberapa pentosa dapat mengalami proses dehidrasi oleh pengaruh asam mineral kuat dan pemanasan. Dehidrasi pentosa akan menghasilkan furfural, sedangkan dehidrasi kesosa kan menghasilkan hidroksimetil furfural. Ribosa akan mengalami dehidrasi menjadi furfural atau furaldehida bila dipanaskan dengan HCl 17%. Monosakarida atau disakarida pereduksi apabila dipanaskan dengan fenilhidrazin akan membentuk kristal berwarna kuning yang sukar larut dalam air yang disebut osazon (Sumardjo, 2006)

Materi dan Metode

Materi
Alat. Alat yang digunakan pada praktikum kali ini adalah pembakar spirtus, tabung reaksi pengangas air, gelas ukur, stopwatch, sendok kecil, pipet tetes, druplet, penyaring, mikroskop, objek glas, corong dan dek gelas.
Bahan. Bahan yang digunakan pada praktikum kali ini adalah larutan benedict, glukosa (0,01 M, 0,02 M dan 0,04 M), fruktosa 0,02 M, laktosa 0,02 M, sakarosa 0,02 M, larutan pati 0,7%, larutan Luff encer, fruktosa 0,01 M, laktosa 0,03 M, sakarosa 0,01 M, sakarosa 0,03 M, selulosa 0,01 M, furfural 0,01 M, naftol 5%, asam sulfat pekat, HCl 5 M, larutan resorsinol 0,5%, sakarida 0,01 M, Na2CO3, arabinosa 0,1 M, asam asetat glasial, fenilhidrazina padat, timol blue, HCl encer, HCl pekat, larutan amilum, larutan iod dan larutan Na2CO3 2%.

Metode
Daya Mereduksi
• Uji Benedict.
Pada tabung 1 diisi 3ml larutan benedict, kemudian ditambahkan 1ml larutan glukosa 0,01M dan dididhkan selama 10 menit. Tabung 2 diisi dengan 3ml larutan benedict, ditambahkan 1ml glukosa 0,02M kemudian didihkan selama 10 menit. Pada tabung 3 diisi larutan benedict 3ml kemudian ditambahkan glukosa 0,04M dan dididhkan selama 10 menit. Kemudian tabung tersebut diamati perubahannya dan dibandingkan kecepatan perubahannnya.
• Uji Luff
Tabung 1 diisi 2ml 0,02M fruktosa, ditambahkan 1ml larutan Luff dan didihkan selama 15 menit. Tabung 2 diisi 2ml glukosa 0,02M, kemudian ditambahkan 1ml larutan Luff dan dididhkan selama 15 menit. Pada tabung 3 diisi dengan 2ml laktosa 0,02M, ditambahkan 1ml larutan Luff dan didihkan selama 15 menit. Tabung 4 diisi dengan sakarosa 0,02M kemudian ditambahkan 1ml larutan Luff dan dididihkan selama 15 menit. Pada tabung 5 diisi dengan 2 ml 0,7% larutan pati 0,02M, kemudian ditambahkan larutan Luff dan dididihkan selama 15 menit. Kelima tabung tersebut diamati perubahan dan kecepatan perubahannya.

Pengaruh Asam
• Uji Molisch.
Pada tabung 1 diisi glukosa 0,02M, kemudian ditambah R.Molisch 5% lalu ditambahkan 3ml larutan H2SO4 pekat lewat dinding tabung, tabung 2 diisi 1ml selulosa 0,02M, ditambahkan R.Molisch 5% dan ditambahkan H2SO4 pekat lewat dinding tabung. Tabung 3 diisi 0,3% larutan pati, ditambah 2 tetes R,Molisch dan 3ml H2SO4 lewat dinding tabung. Pada tabung keempat diisi dengan 1ml furfural 0,01M kemudian ditambah 2 tetes R.Molisch 5% lalu ditambah 3ml H2SO4 pekat lewat dinding tabung.
• Uji Selliwanoff.
Tabung 1 diisi glukosa 0,01M sebnayak 2ml. Ditambahakan 2ml HCl pekat, kemudian dididihkan selama 2 menit, ditambahka 0.5ml larutan resorsinol 0,5%. Tabung 2 diisi dengan 2ml fruktosa 0,01M. Kemudian ditambah 2ml HCl pekat lalu dididihkan selama 30 menit kemudian ditambahkan 0,5ml larutan resorsinol

Pembentukan Osazon
• Uji Fenilhidrazina
Pada tabung 1 diisi dengan 5ml glukosa 0,01M ditambahkan 10 tetes asam asetat glasial. Ditambahkan lagi dengan fenilhidrazina padat kemudian ditambahkan Na-asetat padat sebanyak dua kali fenilhidrazina, lalu dipanaskan selama 5 menit ditunggu sampai semua padatan larut. Tabung dua diisi dengan fruktosa 0,01M, ditambahkan 10 tetes asam asetat glasial, ditambah lagi fenilhidrazina padat lalau ditambah nastrium asetat padat sebnayak 2 kali fenilhidrazina, kemudian dipanaskan selama 5 menit.pada tabung 3 diisi dengan 5ml arabinosa 0,03M, ditambah 10 tetes asam aetat glasial, ditambah fenilhidrazina padat kemudian Na-asetat padat sebanyak 2 kali fenilhidrazina yang kemudian dipanaskan selama 5 menit. Setelah semua selesai masing-masing disaring dalam tabung kosong, kemudian dipanaskan dalam pengangas air selama 30 menit, lalu didinginkan kemudian diamati dengan mikroskop.

Hasil Hidrolisis
• Uji Benedict
Disediakan 3 buah tabung. Pada tabung 1 diisi dengan 5ml larutan maltosa ditambah 1 tetes timol blue juga ditambah 1-2 tetes HCl encer sampai larutan tersebut menjadi merah muda. Kemudian campuran tersebut dibagi mejadi dua dan dimasukkan ke dalam dua tabung tersissa dengan perlakuan yang berbeda. Pada tabung 2, campuran tersebut dididihkan selama 30 menit dan didinginkan, setelah dingin ditambahkan Na2CO3 dan juga 2ml larutan benedict, kemudian diamati perubahan yang terjadi.
Langkah selajutnya 3 buah tabung reaksi disiapkan. Pada tabung 1 diisi dengan 5ml larutan laktosa ditambah 1 tetes timol blue dan juga 1-2 tetes larutan HCl pekat. Larutan tersebut dibagi dua dan dimasukkan ke dalam tabung 2 dan 3 dengan perlakuan berbeda, pada tabung 2 campuran tersebut dididihkan selama 30 menit dan didinginkan. Setelah itu ditambahkan 5 tetes Na2CO3 2% dan juga larutan benedict, kemudian diamati perubahannya. Sedangkan pada tabung 3 ditambah 5 tetes Na2CO3 2% dan larutan benedict, kemudian diamati perubahannya.

• Uji Selliwanoff
Diambil 3 buah tabung reaksi, pada tabung 1 diisi dengan 2ml sukrosa dan juga 2 ml HCl pekat. Apabila telah tercampur dididhkan pada pengangas air selama 30 menit dan didinginkan. Setelah itu ditambah 0,5 ml 0,5% selliwanoff, kemudian diamati perubahannya. Pada tabung 2 diisi maltosa yang ditambahkan dengan 0,5 ml 0,5% selliwanoff, dan diamai perubahannya. Pada tabung 3 diisi dengan 2 ml laktosa dan 2 ml HCl pekat, kemudian campuran tersebut didihkan selama 30 menit dan didinginkan, paabila sedah dingin ditambah dengan seliwanoff, kemudian diamati perubahannya.

Polisakarida
• Uji Hasil Hidrolisis Amilum
Diambil sebuah tabung reaksi, tabung tersebut diisi dengan 10 ml amilum 1%, kemudian ditambahkan dengan 3 ml HCl 3M. Campuran tersebut kemudian didihkan dengan pengangas air, kemudian diuji dengan larutan iod setiap 3 menit dengan perbandingan 1:1, pengujian dihentikan apabila campuran tersebut bila ditambahkan larutan iod warnanya sama dengan larutan iod tersebut, kemudian diamati warna yang timbul. Setelah oengujian hasilnya negatif, maka larutan tersebut ditambah dengan 5 tetes Na2CO3 dan juga larutan benedict dan diamati perubahan yang terjadi.

Hasil dan Pembahasan

Berdasarkan uji yang dilakukan diperoleh hasil sebagai berikut
1. Daya mereduksi
• Uji Benedict.
Uji ini dilakukan bertujuan untuk menggetahui adaya gugus reduksi pada karbohidrat. Hal ini dibuktikan dengan adanya endapan berwarna merah bata yang terdapat pada larutan yang digunakan pada percobaan. Tabung reaksi 1, 3 ml berisi larutan Benedict dan 1 ml glukosa 0,01 M, setelah dipanaskan selama 5,26 menit, di dalamnya terdapat endapan berwarna coklat kemerahan . Tabung reaksi 2, berisi glukosa 0,02 M dan 3 ml larutan Benedict, setelah dipanaskan selama 1,16 menit, di dalamnya terdapat endapan coklat kemerahan lebih banyak daripada tabung 1 . Tabung reakasi 3, dengan perlakuan sama namun menggunakan konsentrasi glukosa 0,04 M, menghasilkan lebih banyak endapan merah bata . Selain itu, pada semua tabung reaksi juga terjadi perubahan warna larutan menjadi biru. Tabung 3 memiliki warna yang paling pekat, disusul tabung 2 dan 1.
Prinsip kerja percobaan ini karena larutan Benedict mengandung ion Cu++ yang dapat direduksi oleh gugus reduksi yang dimiliki oleh karbohidrat (gugus aldehid dan keton) menjadi ion Cu+ dan diendapkan dalam bentuk Cu2O berwarna merah bata. Ini membuktikan bahwa glukosa mempunyai gugus pereduksi.
Perbedaan jumlah endapan maupun kepekatan warna larutan dipengaruhi oleh kosentrasi larutan. Seperti percobaan yang dilakukan, larutan glukosa dengan kosentrasi tertinggi memberikan endapan terbanyak dan warna larutan terpekat. Ini dikarenakan semakin tinggi konsentrasi suatu larutan, semakin banyak pula molekul yang terlarut di dalamnya (Pranowo, 2006), dalam hal ini adalah glukosa. Karena konsentrasi semakin tinggi maka gugus reduksi yang ada pada larutan akan semakin banyak pula, sehingga reaksi yang terjadi akan menghasilkan endapan merah bata yang lebih banyak.
Dari percobaan ini diketahui bahwa glukosa merupakan gula pereduksi. Kemampuan mereduksi juga dipengaruhi oleh konsentrasi larutan tersebut.
b.Uji luff
Dalam uji ini didapat hasil pada tabung 1 yang berisi fruktosa + R. Luff ternyata terdapat sedikit endapan merah bata, lalu untuk tabung 2 yang berisi glukosa + R. Luff ternyata terdapat endapan merah bata yang lebih banyak daripada tabung 1, lalu untuk tabung 3 yang berisi laktosa + R. Luff ternyata juga terdapat endapan merah bata yang lebih banyak daripada tabung 2, lalu untuk tabung 4 yang berisi sakarosa + R. Luff juga terdapat endapan merah bata yang lebih banyak daripada tabung 3, dan untuk tabung 4 yang berisi larutan pati + R. Luff ternyata terbentuk sedikit endapan sama dengan tabung 1. Pada tabung 1 dan 2 terdapat endapan merah bata karena fruktosa dan glukosa punya gugus reduksi bebas yang dapat mereduksi sehingga membentuk Cu2O yang berupa endapan merah bata. Untuk tabung 3 yang berisi laktosa terdapat endapan merah bata karena laktosa memiliki ikatan 1-4 glikosidik sehingga laktosa masih memiliki gugus reduksi bebas. Lalu untuk tabung 4 seharusnya tidak terbentuk endapan merah bata karena sakarosa berasal dari glukosa + fruktosa dengan ikatan 1-2 glikosidik sehingga sakarosa tidak memiliki gugus reduksi bebas, oleh karena itu dalam percobaan ini hasilnya tidak terdapat endapan merah bata. Hal ini dapat terjadi karena sakarosa yang diambil mungkin terkontaminasi dengan glukosa atau sakarosa, karena sakarosa jika yang kami baca di buku-buku tidak mungkin memiliki gugus reduksi bebas. Kemungkinan lain adalah larutan sakarosa yang digunakan telah kadaluarsa sehingga hasil yang didapat tidak sesuai yang diharapkan. Sedangkaan untuk tabung 5 seharusnya terdapat endapan merah bata yang sangat banyak karena pati merupakan polimer dari amilosa (1-4 glikosidik) dan amilopektin (1-4 glikosidik dan 1-6 glikosidik) yang punya gugus reduksi bebas (aldehid) yang dapat mereduksi Cu2+ menjadi Cu+ lalu membentuk Cu2O. Dalam percobaan ini hasil yang didapat ternyata tidak sesuai teori, menurut Lehninger (1988) ada beberapa kemungkinan yang pertama adalah larutan pati yang digunakan telah kadaluarsa, karena jika pati itu telah kadaluarsa maka pati itu tidak akan terhidrolisis. Lalu kemungkinan yang kedua adalah alat yang digunakan dalam praktikum ini telah terkontaminasi dengan bahan lain seperti laktosa, glukosa dll. Sehingga yang bereaksi tidak hanya pati tapi juga larutan lain yang ada dalam tabung.
2. Pengaruh asam
• Uji Molisch
Pada tabung 1 yang berisi 1 ml glukosa 0,02M + 2 tetes R.Molisch 5% + 3 ml H2SO4 pekat terbentuk sedikit cincin berwarna ungu. Pada tabing 2 diisi 1 ml selulosa 0,02M + 2 tetes R.Molisch 5% + 3 ml H2SO4 pekat terdapat cincin ungu lebih sedikit dari tabung 1. Pada tabung 3 diisi 1 ml larutan pati 0,7% + 2 tetes R.Molisch 5% + 3 ml H2SO4 pekat terbentuk cincin ungu yang lebih sedikit dari tabung 1 namun tidak jauh berbeda warnanya dari tabung 2. Pada tabung 4 diisi 1 ml furfural 0,01M + 2 tetes R.Molisch 5% + 3 ml H2SO4 pekat dan terjadi cincin ungu yang lebih banyak dari ke 3 tabung yang lain. hal ini disebabkan glukosa yang merupakan monosakarida harus terdehidrasi terlebih dahulu menjadi furfural. Sedangkan selulosa dan pati yang merupakan polisakarida harus menjadi monosakarida terlebih dahulu agar dapat terdehidrasi menjadi furfural dan hal tersebut memrlukan waktu yang lebih lama. Sehingga dalam jangka waktu yang sama furfural lebih memiliki banyak cincin ungu dari pada glukosa, pati maupun selulosa. Hasil dari percobaan yang kami lakukan sesuai dengan teori yang ada.
• Uji Seliwanoff
Tabung 1 diisi 2 ml glukosa 0,01M + 2 ml HCl pekat, lalu dididihkan selama 30 menit dan didinginkan terlebih dahulu baru ditambahkan 0,5 ml larutan seliwanoff 0,5%. Larutan tersebut tidak menghasilkan enndapan berwarna merah bata. Tabung 2 diisi 2ml fruktosa 0,02M + 2ml HCl pekat, dididihkan 30 menit kemudian ditambahkan 0,5ml larutan Seliwanoff 0,5% setelah dingin menghasilkan endapan merah bata. Larutan fruktosa berubah warna menjadi berwarna merah sedangkan larutan glukosa tidak berubah warna menjadi merah. Penambahan asam pekat dan pemanasan akan mengakibatkan terdehidrasinya fruktosa menjadi hidroksimetilfurfural yang bereaksi dengan resorsinol yang terdapat di dalam Reagent Selliwanof. Resorsinol akan bereaksi dengan hidroksimetilfurfural yang terbentuk dari reaksi gugus keton dengan selliwanof. Gugus keton tersebut berasal dari fruktosa. Sedangkan di dalam glukosa tidak terdapat keton, melainkan aldehid. Oleh karena itu apada tabung berisi glukosa tidak terjadi perubahan warna karena dengan tidak adanya gugus keton amka resorsinol tidak bereaksi dan tidak terjadi senyawa yang berwarna merah. Hasil dari prkatikum yang kami lakukan sesuai dengan teori.

3. Pembentukan osazon
• Uji Fenilhidrazina
Pengujian fenilhidrazina untuk menguji pembentukan osazon didapatkan kristal fruktosa dan arabinosa meski kristal yang dilihat di mikroskop tidak terlihat dengan jelas. Sedangakn pada glukosa tidak terbentuk kristal dikarenakan kemungkinan pemanasan yang tidak optimal mengenai temperatut atau lama pemanasannya. Pengujian ini menggunakan prinsip kerja memanaskan monosakarida pada suhu 100ºC dalam keadaan asam dengan penambahan fenilhidrazina berlebihan. Proses tersebut akan membentuk fenil-osazon. Pada tabung 1 5ml glukosa 0,01M + 10 tetes asam asetat glasial + fenilhidrazin padat + natrium asetat padat sejumlah du kali lipat fenilhidrazin kemudian dipanaskan selama 5 menit atau hingga padatan larut. Stelah 4 menit 19 detik terbentuk larutan berwarna kuning keruh karena terdapat kristal-kristal putih kekuningan, kristal ini merupakan merupakan fenilosazon dari glukosa, jika dilihat melalui mikoroskop seperti ini :

Pada tabung 2, 5ml fruktosa 0,02M + 10 tetes asam asetat glasial + fenilhidrazin padat + natrium asetat padat sejumlah du kali lipat fenilhidrazin kemudian dipanaskan selama 5 menit atau hingga padatan larut. Lalu larutan tersebut akan berubah warna menjadi kuning tua dan akan terdapat kristal-kristal putih kekuningan yang membuat keruh larutan. apabila diamati dalam mikroskop:

Pada tabung 3 arabinosa 0,03M + 10 tetes asam asetat glasial + fenilhidrazin padat + natrium asetat padat sejumlah du kali lipat fenilhidrazin kemudian dipanaskan selama 5 menit atau hingga padatan larut. Setelah akan terbentuk warna kuning keruh yang disebabkan oleh pembentukan kristal putih kekuningan yang merupakan fenilosazon arabinosa. Apabila diperhatikan deng mikroskop kan nampak :

Dapat dilihat bahwa kristal glukosazon dan fruktosazon memiliki bentuk yang sama karena glukosa dan fruktosa mempunyai kesamaan posisi gugus karbonil dan atom H pada atom karbon nomor 3, 4, 5.

4. Hasil hidrolisis
• Uji Benedict
Pada tabung 1a menghasilkan banyak nendapan merah bata, pada tabung 1b terdapat sedikit endapan merah bata. Pada tabung 2a terdapat banyak endapan merah bata dan tabung 2b terdapat sedikit endapan merah bata. Hal ini meunjukkan bahwa pemnasan dapat meningkatkan prosese reaksi yang terjadi dibuktikan dengan adanya endapan merah bata yang terjadi pada tabung 1a dan 2a yang dipanaskan. Pada tabung 1a dan 2a terdapat endapan merah bata banyak karena dengan adanya pendidihan menyebabkan terjadinya hidrolisis sehingga menghasilkan gugus reduksi bebas yang lebih banyak. Tanpa pemanasan menyebabkan tidak terjadinya hidrolisis sehingga hanya mempunyai sebuah gugus reduksi bebas.

• Uji Seliwanoff
Tabung pertama yang berisi sukrosa menghasilkan warna merah sedangkan tabung 2 dan 3 tidak mengahsilkan warna merah. Hal ini dikarenakan proses pemanasan dan suasana asam menyebabkan hdakarosa terhidrolisis menjadi fruktosa dan glukosa dimana fruktosa mempunyai gugus keton yang bereaksi dengan uji selliwanof. Sedangkan pada tabung 2 dan 3 yang diisi maltose dan laktosa meski terjadi hidrolisis namun maltose dan laktosa merupakan polisakarida yang merupakan gabungan dari glukosa+glukosa (maltosa) dan galaktosa+glukosa (laktosa) dan tidak mempunyai gugus keton.

5. Polisakarida
• Uji Hasil Hidrolisis Amilum
Pada pengujian Polisakarida yang telah kami lakukan diperoleh hasil akhir berupa larutan yang apabila diuji menggunakan Yod akan menghasilkan warna ungu. Hal tersebut tidak sesuai dengan teori yang menyatakan bahwa hasil akhir yang akan terjadi adalah perubahan warna dari biru(Amilum) menjadi tidak berwarna(Glukosa) setelah di didihkan selama 30 menit. Adapun urut-urutan yang seharusnya terjadi adalah : Amilum – Amilodekstrin – Eritrodekstrin –Akrodekstrin – Maltosa – glukosa. Namun yang terjadi pada pengujan yang telah kami lakkan lebih dari 60 menit perubahan yang terjadi hanyalah perubahan dari warna biru menjadi warna ungu yang berarti baru terjadi perubahan dari amilum menjadi amilodekstrin. Ada banak factor yang dapat menyebabkan ketidak sesuaian antara teori denagan hasil praktikum yang kami dapatkan. Beberpa factor yang mungkin saja mempengaruhi hasil yang tidak sesuai ersebut adalah percampuran larutan tidak sesuai dengan komposisi yang sesuai yaitu campuran antara Amilum 3% dengan HCl 3M sehingga hasil yang didapatkan tidak sesuai. Faktor kedua adalah suhu pemanasan yang kurang maksimal sehingga reaksi yang terjadi didalam larutan tidak dapat berlangsung secara sempurna.

Kesimpulan

Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan dapat diambil kesimpulan bahwa melalui uji benedict diketahui bahwa karbohidrat mengandung gugus reduksi, melalui uji luff diketahui bahwa sakarosa dan pati tidak memiliki gugus reduksi. Dari uji molisch yang telah dilakukan diketahui bahwa terdapat pengaruh asam pada karbohidrat sehingga terjadi senyawa yang berwarna ungu dan membentuk menyerupai cincin. Melalui uji selliwanof yang telah dilakukan diketahui bahwa pada karbohidrat mengandung gugs keton (fruktosa) sehingga dapat dibedakan antara fruktosa dan glukosa. Uji fenilhidrazina dapat digunakan untuk mengidentifikasi karbohidrat berdasar bentuk fisik. hasil hidrolisis yang diuji dengan uji benedict yang menunjukkan bahwa hanya sakarosa yang perlu pemanasan agar terhidrolisis karena sakarosa tidak punya gugus reduktif bebas, begitu pula dengan uji seliwanoff yang positif hanya sakarosa karena sakarosa punya gugus keton (fruktosa).

Daftar Pustaka

Beran,J.A. 2000. Chemistry in the Laboratory. 2nd ed. Jhon Willey and Sons,Inc. New York.
Donald.et.al. 2002. Animal Nutrition Sixth Edition. Person Prentice Hall. England
Gilvery, M.C and Giddstein. 1996. Biokimia Suatau Pendekatan dan Fungsional. Airlangga University Press. 219P
Sumardjo, Damin. Pengantar Kimia:Buku Panduan Kuliah Mahsiswa Kedokteran dan Program Strata 1 Fakultas Bioeksata. EGC Penerbit. Jakarta.

About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s